Solid Gold | Mata Uang Asia Berpotensi Lanjutkan Penguatan

Mata Uang Asia Berpotensi Lanjutkan Penguatan – Solid Gold

SOLID GOLD PALEMBANG – Mata uang pasar berkembang di Asia diprediksi masih akan melanjutkan penguatannya pada pekan ini. Trader telah meningkatkan harapan bahwa The Fed dapat menurunkan suku bunga sebanyak 50 basis poin seiring dengan komentar dovish beberapa pejabat The Fed pada pekan lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang perdagangan pekan lalu, mayoritas mata  uang pasar berkembang di Asia berhasil berada di zona hijau dengan penguatan dipimpin oleh rupiah.

Mata uang Garuda berhasil menguat 0,5% dan diikuti oleh baht dan won yang masing-masing menguat 0,46% dan 0,38%. Di antara seluruh kelompok mata uang pasar berkembang di Asia, hanya yuan offshore dan dolar Singapura yang bergerak di zona merah, ketika dolar AS cenderung bergerak melemah.

Pada konferensi bank sentral AS pekan lalu, Gubernur Bank Sentral AS New York John Williams mengatakan bahwa para pembuat kebijakan perlu menambahkan stimulus  lebih awal untuk mengahadapi inflasi yang lebih rendah ketika ekonomi secara keseluruhan melambat.

Dia mengatakan, The Fed lebih baik mengambil tindakan pencegahan daripada menunggu kejadian yang menambahkan kepercayaan diri pasar soal akan adanya pemangkasan suku bunga pada akhir bulan ini.

Komentar tersebut juga menambahkan harapan pasar bahwa The Fed akan memangkas  suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir bulan ini dan juga memicu ekspektasi  lainnya, yaitu pemangkasan hingga 50 basis poin.

The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter pada 31 Juli 2019, dengan  spekulasi pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin naik menjadi 48,3% dari  sebelumnya sebesar 34,3%, berdasarkan FedWatch CME Group.

Sementara itu, beberapa bank sentral di negara berkembang Asia akhirnya bergabung dengan bank sentral dunia lainnya yang telah melonggarkan kebijakan moneternya karena ekonomi dunia yang melambat.

Bank Sentral Indonesia dan Korea Selatan pada pekan lalu mengumumkan pelonggaran  kebijakan moneternya dengan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Korea Selatan memiliki kekhawatiran tentang stabilitas keuangan karena tingginya  tingkat utang rumah tangga, sedangkan Indonesia membutuhkan hasil yang lebih  mntinggi untuk menarik investor asing untuk mendanai defisit neraca berjalan

Kepala Ekonom Asia Bloomberg Chang Su mengatakan bahwa Bank Korea dan Bank  Indonesia adalah salah satu bank sentral besar terakhir di Asia yang bergabung  dengan klub bank sentral yang melonggarkan kebijakannya  SOLID GOLD 

Baca Juga :

PT Solid Gold Berjangka

Legalitas PT Solid Gold Berjangka

Sertifikat PT Solid Gold Berjangka

Visi Dan Misi PT Solid Gold Berjangka

Profil Perusahaan PT Solid Gold Berjangka

Info Dan Kegiatan PT Solid Gold Berjangka

Fasilitas Layanan PT Solid Gold Berjangka

Alasan Anda Memilih Kami PT Solid Gold Berjangka

Penghargaan Dan Pengakuan PT Solid Gold Berjangka

Keunggulan Dan Karakteristik Produk PT Solid Gold Berjangka